BANJARMASIN adalah Ibu Kota sekaligus jantung Provinsi Kalimantan Selatan. Kota ini tak terpisahkan dengan keberadaan sungai atau kanal serupa labirin sehingga dijuluki Kota Seribu Sungai.

Dari zaman dulu hingga sekarang, Banjarmasin merupakan kota pelabuhan penting di Kalimantan. Meski secara geografis tidak begitu luas, Banjarmasin adalah kota yang disibukkan dengan denyut bisnis dan lalu lintas perkotaan. Namun begitu, kota ini memiliki pesona tersendiri yang menjadikannya menarik, misal potret budaya urban Kalimantan, baik di darat maupun perairannya.

Terletak di sebuah delta di dekat persimpangan Sungai Barito dan Martapura, Banjarmasin bersama kota tetangganya, Banjarbaru, menjadi pusat dari kota metropolitan terbesar kesembilan di Indonesia yang disebut Banjar Bakula. Keduanya membentuk kawasan yang meliputi Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut, seperti dilansir dari Indonesia.Travel, Jumat (24/1/2014).

Banjarmasin memiliki banyak sungai lebar dan dan berarus kuat yang berperan besar dalam kehidupan dan sekaligus membentuk gaya hidup masyarakat Banjarmasin itu sendiri. Hal yang paling menarik dari kota ini adalah keberadaan pasar apung. Hingga hari ini, setiap pagi para petani dan pedagang mengangkut barang dagangan mereka di perahu-perahu kayu yang memadati sungai untuk saling bertransaksi. Inilah tempat menyaksikan salah satu potret fenomenal kehidupan masyarakat di pinggiran sungai di Banjarmasin. Sungai-sungai juga digunakan sebagai tempat utama untuk lomba perahu dan perayaan atau festival lainnya.

Pasar apung terpopuler adalah Muara Kuin yang berlokasi di Sungai Barito, tepatnya muara Sungai Kuin. Sejak subuh dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, pasar apung ini akan mulai dipadati perahu-perahu yang dimuati hasil bumi berupa pisang, udang, ikan, ubi jalar, bayam, kelapa, rempah-rempah, cabai, rambutan, dan segala komiditi yang bisa diperjualbelikan. Karena perhau-perahu terus digoyang gelombang sungai, para pedagang harus memiliki kemampuan mendayung perahu tangkas. Di atas perahu-perahu yang digoyang gelombang inilah, pedagang dan pembeli melakukan pertukaran barang atau bertransaksi hingga berakhir pukul 09.00 WIB.

Masyarakat Banjarmasin memiliki cara unik untuk membangun rumah mereka agar selaras dengan alam. Setidaknya ada 12 jenis rumah tradisional dan beberapa masih berdiri megah hingga hari ini. Di Kampung Kraton masih dapat dilihat sisa-sisa Istana Banjarmasin lama yang dihancurkan Pemerintah Kolonial Belanda. Ada juga Masjid Sultan Suriansyah yang dikenal sebagai masjid pertama di Kalimantan Selatan. Ada pula makam kerajaan di kompleks masjid ini.

Tujuan wisata lain yang menarik adalah Museum Waja Sampai Ka Puting yang menyimpan beberapa koleksi sejarah perjuangan rakyat dalam usaha melawan penjajahan Belanda. Museum ini adalah sebuah rumah tradisional suku Banjar dan mengadopsi gaya Bubungan Tinggi, yaitu salah satu dari 12 jenis bangunan tradisional dan paling representatif.